chapter 1 “Beginning of the Journey”

Posted: April 25, 2012 in FunFic
Tag:, ,

Title: Destiny
Genre: Friendship-Romance-Family
Status: Series
character and place based on Ragnarok Game World

Casts:

-=Darryl=-
Name : Darryl Daffodill
Character Job : Novice
Base/Job Level : 10/9

-=Scherine=-
Name : Scherine
Character Job : Novice
Base/Job Level : 4/2

lokasi: Kota Izlude

Aku ingat sekali pertama kalinya aku berlatih untuk menjadi seorang swordman. Aku telah berulang kali gagal dalam ujian, aku mencoba untuk tidak putus asa, tetapi kegagalanku yang berulang-ulang membuat asaku habis juga. Aku yang saat itu masih novice duduk menyendiri di bawah pohon di kota Izlude. Kota itu memang sepi, jarang sekali terlihat orang berlalu-lalang disana. Entah setelah beberapa menit aku duduk terdiam disana dan nyaris tertidur, aku mendengar jeritan seorang anak perempuan. Aku kaget dan panik, hingga aku dengan reflek berdiri tegap dan memandang sekitar dengan tatapan siaga.
Aku melihat seorang anak perempuan berlari sambil menjerit sepanjang jembatan menuju tengah kota Izlude, aku terus memandangnya hingga akhirnya ia berdiri dihadapanku. Dia seorang novice, sama sepertiku, dia terlihat begitu kacau, pipi nya berdarah dengan luka goresan, kakinya pincang dengan luka di lututnya tapi entah kenapa tetap ia paksa untuk berlari. Dia membungkuk di depanku sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah. Dan aku hanya diam seperti patung.
“Di sana…di sana ada monster yang sangat kuat, aku nyaris mati karena ingin membunuhnya.” Jelasnya, meskipun aku tidak bertanya.
Aku masih saja terdiam.
“Monster menyebalkan, padahal dia sangat lucu dengan warnanya yang pink.”
“Kau yakin dia sangat kuat?”
“Iya, dia terus saja memantul hingga mendorongku terjatuh berkali-kali, padahal aku sudah mencoba sekuat tenaga untuk menusuknya dengan knife.”
Aku nyaris tertawa mendengarnya.”Kalau dia hanya membuatmu terjatuh, kenapa dengan pipimu? sepertinya pipimu luka terkena benda tajam?”
“Oh ini,ini salahku, aku tidak sengaja menggoresnya dengan knife yang aku pegang.”
Dan tawaku tak lagi terbendung.”Kau ini bodoh atau kenapa,menggunakan knife saja tidak bisa. Dan juga monster itu kan hanya Poring.”
Anak perempuan itu wajahnya memerah, bukan karena dia malu tetapi karena dia sangat marah.”Kau ini sombong sekali, kau kan juga novice, pasti kau belum pernah melawan monster itu, kau hanya duduk diam di kota sepanjang hari! Apa hebatmu?!”
Tawaku berhenti.”Kau meragukanku bisa melawan Poring? Yang benar saja?!”
“Ayo kita buktikan? Kau pasti kalah!”
“Aku tidak akan kalah!”

Lokasi: Prontera Field (sebelah barat kota Izlude)
Tak jauh dari pintu masuk kota Izlude sudah terlihat seekor Poring berlarian mamantul kesana kemari.
“Lihat dan amati.” Kataku sedikit sombong.
Aku yakin bisa membunuh seekor Poring dengan mudah. Aku keluarkan senjataku, Sword. Aku dekati seekor Poring dan dengan pedangku aku tusuk berkali-kali, monster itu sempat melawan,mendorongku, tapi itu tidak membuatku terjatuh. Dengan 5 kali tusukan, akhirnya monster itu mati dan tubuhnya berceceran.
“Kau lihat…” kataku sambil membalik badan. Tapi lidahku tercekat, aku segera berlari, menghunus pedangku lagi pada seekor Poring, hanya 2 kali tebas Poring itu mati. Aku melihat poring itu menyerang anak perempuan yang tadi bersamaku, dia sudah terjatuh ditanah dengan luka di seluruh badannya.
Pedangku terlepas, aku segera mengangkatnya dari tanah.”Kau ini benar-benar bodoh.”

Lokasi: Prontera Inn
Untung saja nyawa anak perempuan itu masih bisa tertolong. Ada seorang suster yang sekarang sedang merawatnya. Aku yang bukan siapa-siapanya tidak bisa meninggalkannya begitu saja karena ia belum juga sadar,sehingga dia belum bisa ditanyai mengenai orangtuanya.
Hari ini sudah malam, ia belum siuman juga. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Dan aku belum bisa tidur bukan karena dia tapi karena aku kekenyangan, malam ini aku makan 3 potong besar daging, suster di sini sangat baik hingga memberiku makanan.
Tak lama, terdengar erangan pelan. Aku langsung menengok ke arah anak itu. Matanya bergerak-gerak, ia seperti sangat sulit untuk membuka matanya sendiri.
“Kau baik-baik saja? Apa masih sakit sekali?”
Matanya perlahan terbuka. Bibirnya membentuk senyuman yang sangat manis, hingga membuat jantungku berdegup lebih keras.
“Iya, aku sudah tidak apa-apa. Kau baik sekali menolongku.”
“Kau ini sangat bodoh hingga mungkin semua orang di Rune-Midgrat punya kesempatan untuk menolongmu.”
Dia seperti ingin tertawa,tapi hanya ringisan yang ia lakukan.
“Apa masih sakit sekali? Apa perlu aku panggil suster?”
Dia menggeleng.
“Apa kau ingin makan sesuatu? ada daging sisa makan malam tadi, kau mau?”
Dia mengangguk dan aku bergerak mengambil daging di atas meja, lalu menyerahkannya.
“Apa kau tidak diajari cara dasar menggunakan pedang di pelatihan? Keahlianmu menggunakan knife-mu sangat buruk.”
Dia menelan pelan 1 gigit daging pertamanya.”Aku tidak ingat pernah di pelatihan.”
“Mana mungkin? Semua calon petarung dikirim ke sana sebelum siap untuk bertempur.”
Dia hanya menggeleng.
“Ini aneh sekali. Aku ingat dulu kedua orangtuaku mengantarkanku ke pelatihan.”
“Aku bahkan tidak ingat siapa orangtuaku, aku hanya ingat, aku duduk menangis di pojok kota Prontera hingga ada seoarang ArcBishop baik memberiku apple dan sebuah knife.”
Ini menjawab pertanyaan suster tentang siap orangtuanya. Aku mengangguk-angguk meskipun masih bingung dengan apa yang terjadi dengannya.
“Hmm…Kita belum kenalan, siapa namamu?” katanya masih sambil mengunyah daging.
“Darryl Daffodill, kamu?”
“Panggil saja aku Scherine.”
“Scherine? itu namamu?”
“Iya..mungkin, setidaknya itu yang tertulis dikalung yang ada padaku entah sejak kapan.”
“Oh.” Dan keheningan mulai menyelimuti ruangan itu.
5 menit berlalu dengan keheningan dan akhirnya Scherine  menyelesaikan makan malamnya.
“Terima kasih banyak telah membantuku.” Kata itu yang terucap memecahkan keheningan.
Aku hanya mengangguk.
“Hmm…Apa yang kau lakukan di kota Izlude? Kota itu kan sangat sepi? Kenapa kau tidak berburu?”
“Ah sepertinya kau sudah sembuh setelah makan hingga bisa bertanya panjang lebar seperti itu.”
Dia tertawa, bukan tertawa lebar tapi hanya tertawa.”Ya, ya mungkin aku hanya lapar saja hingga aku tidak bisa membunuh Poring itu.”
“Kau masih yakin bisa membunuh Poring itu?”
“Tentu saja, kau yang sama denganku, seorang novice, meskipun mungkin 1 atau 2 level di atasku saja bisa membunuhnya, kenapa aku tidak?” Katanya percaya diri.
“Sebenarnya aku sudah level 10.”
“Yang benar? Terus kenapa kau masih seorang novice? Kau tidak berniat mengubah ketingkat yang lebih tinggi?”
Mukaku tanpa ku sadari memerah. Aku sangat sulit menjawab pertanyaannya, aku terlalu malu.”Aku gagal dalam ujian.” Akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulutku.
“Kau gagal? Mana mungkin? Kau petarung hebat. Pasti kau hanya kurang sedikit motivasi atau sedikit tantangan?”
Dia seperti sedang menantangku untuk bertanding, seperti yang ia lakukan agar aku membuktikan bahwa aku bisa membunuh seekor Poring dan aku telah membuktikan bahkan dengan membunuh 2 ekor Poring.

Aku hanya mengangkat alisku.

“Tunggu sampai aku level 10 dan kita berlomba siapa duluan yang akan lolos dalam ujian.”
“Boleh. Yang kalah akan menjadi pembantu, ini akan lebih menantang, Deal?”
“Deal!” Kita pun berjabat tangan.

Perjalanan ini kita mulai, untuk meningkatkan levelnya aku membantunya untuk berburu. Meskipun ia hanya melawan Poring, Fabre, atau Lunatic, tapi ia sudah seperti melawan Baphomet monster terkuat. Ia jatuh bangun dan tak lagi menghiraukan luka yang tergores di tubuhnya. Aku akui dia memang petarung gigih meskipun lemah, tak jarang aku melindunginya dari serangan monster. Butuh berhari-hari,bahkan lebih lama dari waktu yang ku butuhkan untuk mencapai level 10. Tapi ia tetap tidak menyerah.

Kini,Kita sudah berdiri di depan bangunan tempat ujian Swordman. Setelah melewati petualangan melelahkan. Akhirnya ia mencapai level 10. Dan hari ini hari pembuktian.
“Kau yakin ingin menjadi Swordman?”
“Ya, ini bukan karenamu, ini memang pilihanku.”
Aku mengangguk.
Kami melangkahkan kaki mamasuki gedung. Kakiku sedikit bergetar. Tentu saja aku takut gagal, tapi bukan karena taruhan kita. Ini lebih karena kepercayaan diriku.
“Mulai dari sini kita akan berjuang, kau harus lolos, semangat!”

Lokasi: Kota Izlude
Perasaan itu sangat luar biasa. Aku sangat puas dengan kemampuanku. Aku sangat percaya diri. Dan inilah aku sekarang, seorang Swordman. Aku duduk menunggu Scherine keluar dari tempat ujian, dia belum selesai juga mengikuti ujian.
Tak lama, seorang gadis swordman, keluar dari pintu bangunan ujian. Scherine dengan baju swordmannya terlihat anggun sekaligus gagah. Ia berlari menghampiriku, melompat-lompat kegirangan, dan itu sebenarnya yang ingin aku lakukan sejak tadi tapi aku menahannya.
“Kita berhasil!” serunya.
“Ya.. dan kau menang Scherine.”
“Ya, tapi kau juga menang.”
“Tapi kau lolos ujian, Scherine…”
“Yaa.. dan kau juga lolos,kau duluan yang lolos.”
Benar, tapi tetap saja aku yang kalah. Dia lolos ujian di percobaan pertamanya. Aku tidak ingin menganggap dirikulah yang menang. Dia yang menang.
“Aku akan menjadi pembantumu selama kau mau.”
“Tidak, aku tidak mau, karena kaulah yang menang.”
“Baiklah, Bagaimana kalau aku menjadi temanmu saja, itu cukup adil kan?”
“Kau kira selama ini kita tidak berteman, kalau memang tidak, aku sudah meninggalkanmu dimakan Poring dan Fabre.”
“Kau jahat sekali…”
Aku tertawa.
“Jadi kemana kita akan berpetualang sekarang?” Dia berjalan dengan semangat melewati jembatan kecil sambil mengepalkan tangannya ke langit.
“Ah seperti kau sudah kuat saja.” Aku menyusulnya di belakang.

Awal perjalanan panjang kita dimulai, meskipun kita belum mempunyai arah hidup atau mungkin arah hidupku mengarah pada Scherine. Aku pun belum mengetahuinya. Yang pasti kita akan berjalan beriringan untuk memulai petualangan kita.

-=To be continue=-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s